Tampilkan postingan dengan label isu wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label isu wanita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 April 2010

Gerakan Tanam Pohon oleh Perempuan Indonesia

Ajang gerakan tanam 10.000 pohon di lahan kritis kembali digelar Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Aksi tanam pohon ini diadakan di Desa Majalaya dan Desa Cijagang, Kecamatan Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur, yang memang memiliki banyak lahan kritis dan lahan tandus.

Gerakan yang dinamakan "Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara" ini dihadiri oleh Ketua Umum Kowani DR Hj Dewi Motik Pramono, MSi, isteri Wakil Gubernur Jawa Barat Shendy Dede Yusuf, dan Bupati Cianjur Drs Tjetjep Muchtar Sholeh, MM. Selain itu hadir juga perwakilan dari tujuh organisasi besar perempuan di Indonesia, di antaranya Dharma Pertiwi, Bhayangkari, Dharma Wanita Persatuan, dan PKK.

Gerakan tanam pohon ini memang merupakan salah satu Program Umum Kowani Bidang Lingkungan Hidup yang dicanangkan pada Kongres XXIII Kowani, Desember 2009 lalu di Jakarta.

Program ini adalah lanjutan dari penanaman 10 juta pohon yang diprakarsai oleh tujuh organisasi besar perempuan di Indonesia.

"Tanam pohon merupakan tanggung jawab kaum wanita dalam melestarikan lingkungan hidup, " ujar Dewi Motik, yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Lingkungan Hidup dan Kesehatan. Ia memimpin langsung penanaman pohon ini di Cianjur, Selasa (30/3/2010) lalu.

Target awal gerakan tanam pohon pada tahun 2007 adalah sebanyak 10 juta pohon, dari Sabang sampai Merauke, dan dari Miangas ke Pulau Rote. Jumlah ini ternyata sudah terlampaui. Target pun naik menjadi 15 juta pohon pada tahun 2008, dan meningkat menjadi 17 juta pohon pada tahun 2009.

Berbagai macam bibit pohon yang akan ditanam di daerah tersebut antara lain pohon sengon, mahoni, dan buah-buahan seperti mangga, rambutan, durian, dan sukun. Penanaman pohon diikuti dengan acara tebar benih 10.000 bibit ikan, seperti ikan nila dan mujair di kolam-kolam penduduk sekitar dua desa tersebut.

"Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara" ini telah dicanangkan sejak 1 Desember 2007 oleh Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhoyono di Jakarta. Keberhasilan kaum perempuan dalam gerakan tanam dan pelihara telah mendapat pengakuan dari UNEP (United Nation Environment Program) dan mendapat Certificate of Global Leadership yang diberikan kepada Ibu Ani Yudhoyono dan Menteri Kehutanan MS Kaban. Gerakan ini juga telah mendapatkan penghargaan dari Organisasi Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Fiza Menguji Adrenalin di Danau Sleman

Puteri Indonesia Lingkungan 2009 Zukhriatul Hafizah menguji adrenalin dengan berperahu menyusuri danau selama 30 menit di tengah hutan tropis Tambling, Sumatra. Danau Sei Leiman, atau lebih akrab disebut Danau Sleman, merupakan bagian dari kelengkapan ekosistem di kawasan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Barat.

Kawasan wisata alam dengan misi konservasi ini memang memiliki daya pikat. Pengunjung jadi tertantang untuk menjelajah setiap titiknya. Kami juga mengenal lebih dekat habitat 6 jenis mamalia, beberapa di antaranya bahkan hampir punah, seperti gajah, badak, harimau, kerbau liar, tapir, dan beruang madu.

Hutan tropis ini menjadi habitat baru dari harimau Aceh yang dilepasliarkan setelah melewati rehabilitasi. Agam dan Pangeran, dua harimau Sumatra, kembali ke alam sejak 2008. Buyung dan Panti, jantan dan betina, menyusul Februari 2010. Begitu pula dengan buaya yang diselamatkan dan dilepasliarkan di kawasan TWNC. Danau di kawasan ini menjadi tempat tinggal baru yang lebih aman untuk hewan predator ini.

"Menantang dan cukup deg-degan menyusuri danau. Kebiasaan hidup di Jakarta kanan-kiri penuh sampah, berbanding terbalik saat mengunjungi Tambling ini, hijau pepohonan dan alami. Seru, meski sedikit ngeri," celoteh Fiza, saat mengunjungi TWNC Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Sumatra, pada 28-29 Maret 2010 lalu.

Menyaksikan keakraban manusia dan alam di kawasan TNBBS menjadi kebanggaan bagi Fiza. Hal ini juga tak hanya karena TNBBS ditetapkan UNESCO sebagai Nature World Heritage Site.

"Pengalaman di Tambling membuat saya tersadar dan merasa bertanggungjawab moral untuk melakukan sesuatu bagi lingkungan. Kesadaran seperti ini perlu disebarluaskan di kota besar. Karena masih banyak orang tak peduli dengan hutan, dan (tak ada) kesadaran untuk menjaganya," papar Fiza.

Masyarakat, menurut Fiza, perlu banyak informasi mengenai pelestarian lingkungan. Ia berandai-andai, dokumentasi penyusuran danau alami di Sumatra ini disandingkan dengan penelusuran Kali Ciliwung sebagai perbandingan bagaimana alam yang terjaga dan terpolusi. Tujuannya tak lain untuk membangun kesadaran dalam memelihara alam.

Pesan Cinta Qory di SD Kawasan Konservasi


Pertama kali menginjakkan kaki di kawasan konservasi alam Tambling, Lampung Barat, Puteri Indonesia 2009 Qory Sandioriva terpana akan banyak hal. Mulai dari hutan tropika dengan ekosistem lengkap, udara segar, harimau Sumatra bernama Ucok dan Salma, dan siswa SD yang menjalani konservasi lingkungan sejak dini.

Hari keduanya di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) diisi dengan mengunjungi puskesmas dan sekolah dasar desa Pengekahan.

Penduduk lokal mengerti betul bagaimana memperlakukan alam dan satwa, terutama sejak Artha Graha Peduli memberdayakan masyarakat sebagai bagian dari program konservasi. Tak sulit memperkenalkan pelestarian lingkungan di kalangan murid sekolah dasar dan menengah di desa berpenduduk 600 jiwa tersebut.

Qory, yang juga Duta Harimau, mengenalkan bagaimana memperlakukan harimau sebagai bagian dari konservasi kepada siswa SD yang menyambut kedatangannya.

"Harimau perlu disayang, jangan dibunuh apalagi dimakan. Jangan dikurung, dan tak perlu takut dengan harimau, selama manusia tidak mengganggu dan merusak tempat tinggalnya," begitulah Qory berbagi pengalaman dengan sejumlah murid SDN 2 Way Haru, Belimbing, Lampung Barat, Senin (29/3/2010) lalu.

Keprihatian Qory atas habitat harimau dan jumlahnya yang semakin berkurang (bahkan punah), dibaginya bersama siswa. Kampanye Cinta Harimau ini memang menjadi tugas utamanya sebagai seorang duta, dan dijalaninya dengan hasrat mendalam.

"Bertemu langsung dengan harimau yang sedang menjalani rehabilitasi untuk dilepasliarkan di kawasan konservasi menjadi pengalaman paling berharga," kata Qory, yang mengaku tegang bertemu Salma.

Qory mengerti bagaimana Salma harus memulihkan sakit hatinya. Anaknya dicuri manusia, dan sejak itu, induk betina asal Jambi ini terpisah dari keluarganya.

"Konflik yang dialami harimau ini yang membuatnya menyerang manusia. Padahal jika manusia tak mengganggu atau merusak habitatnya, harimau juga tidak akan menjadi buas," tandas Qory.

Dedikasi untuk Kesehatan Perempuan di Pedalaman


Istilah pekerjaan mulia tak terbersit dalam benak dr Sisilia Yunita, yang akrab disapa Lia. Perempuan lajang ini hanya merasa tertantang untuk memilih menjalani PTT sebagai dokter umum di kawasan konservasi alam, Tambling, Lampung Barat.

Puskesmas di pedesaan kawasan Tambling ini sudah lama berdiri. Puskesmas ini merupakan puskesmas pembantu, cabang dari puskesmas pusat daerah Bengkunat, bahkan sebelum kawasan pedalaman hutan tropika ini menjadi area konservasi lingkungan. Namun jumlah tenaga medis masih terbatas, begitupun dengan fasilitas.

Kompas Female mendapat kesempatan bertemu langsung dengan tim medis dan penduduk setempat. Meski lebih banyak penduduk lelaki di desa tersebut, tak sedikit jumlah perempuan dan anak balita di salah satu desa, Pengekahan.

"Belum ada dokter spesialis di sini, khususnya untuk masalah reproduksi perempuan," papar dr Lia kepada saat kegiatan pelepasan Penyu oleh Puteri Indonesia 2009, bekerjasama dengan Artha Graha Peduli, Senin (29/3/2010) lalu.

Jumlah perawat juga masih minim. Puskesmas setempat hanya memiliki satu perawat laki-laki penduduk asli setempat, Agustinus. Untuk membantu kerjanya, dr Lia menjalankan kaderisasi kepada penduduk Pengekahan yang berminat menjadi tim medis. Yusnita Sari adalah salah satunya yang berminat. Meski hanya lulusan SD, kader perempuan ini dinilai dr Lia memiliki kemampuan yang bisa disejajarkan dengan perawat.

Tenaga medis masih sangat dibutuhkan di kawasan pedalaman seperti Tambling. Apalagi pelayanan kesehatan seperti KB menjadi kebutuhan utama, selain pencegahan maupun pengobatan penyakit paling umum diderita penduduk setempat, yakni malaria.

Tak mudah menjalani pilihan, meski adrenalin tertantang. Tak banyak juga perempuan kota yang bersedia ditempatkan jauh dari keluarga dan lengkapnya fasilitas kota. Kerjasama tim dan kebersamaan para perantau di Lampung Barat ini setidaknya menjadi bumbu lain yang menyenangkan hati, termasuk bagi dr Lia.

Senin, 29 Maret 2010

Perempuan Juga Butuh Diapresiasi


Perempuan mengemban tugas dan peran yang sangat besar dalam mengurus keluarga. Seorang istri atau ibu selalu memprioritaskan keluarganya ketimbang diri sendiri. Ia juga selalu mengutamakan kehangatan dalam mengurus keluarga.

Mereka juga terkadang merasa bersalah jika mendahulukan kepentingannya. Namun, entah mengapa, apresiasi terhadap perempuan masih minim.

''Suami dan anak-anak terkadang lupa kalau seorang istri atau ibu juga butuh rasa kepuasan dan apresiasi akan apa yang telah ia lakukan untuk keluarga,'' ujar psikolog Dr Rose Mini, AP, MPSi, dalam acara talkshow "Masakan Ibu-Cinta, Kreasi, dan Apresiasi", yang diselenggarakan oleh Royco di Plaza Bapindo, Kamis (11/3/2010).

Psikolog yang akrab disapa mbak Romi itu mengakui bahwa seorang ibu selalu memacu dirinya dan berperan sebaik mungkin. Namun, kenyataannya, hal itu belum cukup. Sering kali timbul rasa bersalah saat ia tidak bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk mengurus keluarga atau suami.

Hal ini banyak dirasakan perempuan yang berperan ganda, sebagai istri dan perempuan bekerja. Akibatnya, mereka yang berkarier atau bekerja merasa tertekan. Padahal, karier yang ia jalani juga untuk membantu keuangan keluarga.

Perasaan bersalah itu tidak akan ditemui pada suami atau pria yang bekerja. Padahal, mereka tidak meluangkan waktu untuk mengurus rumah tangga atau anak-anak.

Meski perempuan sudah menunjukkan usaha dan eksistensinya untuk bekerja dan mengurus anak-anak, apresiasi masih minim. Salah satu contohnya soal memasak. Bentuk apresiasi bisa dilakukan dengan mengatakan, "Masakan Ibu enak" atau sekadar menghabiskan masakan. Simpel, bukan?

Namun, hal ini belum dilakukan oleh anggota keluarga. ''Kita sudah lelah bekerja, pulang ke rumah langsung memasak untuk keluarga. Tetapi, masakan tidak disentuh dengan alasan tidak selera,'' ujar Romi, mencontohkan.

Hal seperti inilah yang kerap mengendurkan semangat perempuan. Apakah Anda pernah mengalaminya?

Menyeimbangkan Peran sebagai Pribadi, Istri, dan Ibu


Perempuan mengemban tugas dan peran yang sangat besar dalam mengurus keluarga. Tanggung jawab terhadap keluarga begitu besar sehingga sering kali perempuan merasa bersalah jika mendahulukan kepentingannya. Meskipun sudah berusaha keras, apresiasi terhadap perempuan masih minim.

Untuk menyeimbangkan kehidupan Anda sebagai pribadi ataupun sebagai istri dan ibu, sebenarnya ada hal-hal yang bisa Anda lakukan. Berikut tips dari psikolog Dr Rose Mini, AP, MPSi, dalam acara talkshow "Masakan Ibu-Cinta, Kreasi, dan Apresiasi" yang diselenggarakan oleh Royco di Plaza Bapindo, Kamis (11/3/2010).

1. Utamakan komunikasi. Tanyakan kepada suami dan anak-anak, menu apa yang ingin mereka makan.

2. Delegasikan pekerjaan. Buat skala prioritas. Terkadang perempuan sulit untuk membagi tugas akibat rasa tidak percaya. Contohnya saja soal belanja. Biarkan pembantu yang berbelanja sehingga Anda bisa fokus pada hal-hal yang utama.

3. Beri perhatian. Mengawasi anak-anak tidak harus dengan bertatap muka. Kualitas adalah yang utama. Contohnya, menggunakan telepon untuk memantau anak-anak.

4. Berpikir positif. Jangan melihat hal-hal dari segi negatif sebab hal ini akan berpengaruh terhadap suasana hati dan orang di sekitar kita.

5. Hargai diri sendiri. Berikan waktu untuk diri sendiri. Hal ini bisa dilakukan tanpa harus merasa bersalah. Contohnya, istirahat sejenak selama 30 menit untuk membaca novel atau majalah.

6. Jangan berlebihan. Contohnya, Anda memasak dalam porsi besar yang menghabiskan banyak waktu. Solusinya, sesekali menghabiskan waktu untuk menjajal masakan resto pada akhir pekan.

7. Kreatif. Perempuan adalah makhluk multitasking. Sambil memasak, Anda bisa mencuci atau sekadar menelepon suami dan anak-anak.

8. Informatif. Bekali diri Anda dengan pengetahuan yang cukup. Misalnya dengan bertukar informasi lewat ajang perkumpulan jejaring.

Jika Anda sudah bisa membagi waktu untuk pekerjaan, keluarga, dan orang-orang sekitar, niscaya apresiasi akan datang dengan sendirinya.

Minggu, 28 Maret 2010

Lelaki "Ideal" Sering Menipu Perempuan

Tak sedikit perempuan yang mudah terpana dengan citra "ideal" lelaki. Contohnya postur tubuh yang menarik, macho, atau kehebatan pria yang menunjukkan karakter maskulin. Bagi sejumlah orang, kriteria ini bahkan berada terdepan tanpa menganalisa pertimbangan lain seperti sikap, perilaku, pola pikir, dan kepribadian.

Lantas apakah masalahnya dengan pilihan ini? Perempuan berhak memilih kriteria pria seperti apa untuk pendamping hidupnya?

Menjadi masalah ketika kriteria fisik mengalahkan segalanya, bahkan ketika mengetahui si lelaki memiliki kecenderungan sebagai perilaku kekerasan. Masalahnya menjadi lebih rumit ketika perempuan terlanjur jatuh cinta. Perempuan cenderung lebih menerima, bahkan meski sang lelaki pujaan akhirnya menelantarkan.

Menurut psikolog dan dewan pengurus Yayasan Pulih, Kristi Poerwandari, perempuan memiliki keinginan lebih kuat untuk berkoneksi, atas dasar cinta, dan mempertahankan hubungan. Perempuan cenderung tidak siap untuk keluar dari hubungan meski menyadari bahwa dirinya tidak bahagia.

"Perempuan pintar sekali membuat self deception karena posisi dalam struktur lebih lemah. Secara umum dalam konstruksi gender, perempuan lebih pasif dan lebih mengalahkan dirinya," papar Kristi kepada Kompas Female usai seminar "Gerakan Laki-laki Baru" di kampus UKRIDA II, Jakarta, Rabu (10/3/2010) lalu.

Konstruksi sosial budaya dalam masyarakat menempatkan perempuan dalam posisi lemah. Norma yang merupakan konstruksi masyarakat ini begitu berakar kuat.

Menurut Kristi, baik lelaki maupun perempuan memiliki ketakutan untuk keluar dari norma yang dikonstruksikan dalam relasi berpasangan, hanya saja caranya berbeda.

"Perempuan takut dinilai buruk oleh masyarakat jika tidak bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga, jika suami tidak kembali kepadanya. Sedangkan lelaki takut tetapi dengan cara yang berbeda, takut tidak bisa meng-handle istrinya," jelas Kristi.

Lelaki kemudian lebih aktif dalam menguasai perempuan, dengan mendominasi dan mengatur, demikian menurut Kristi. Lelaki juga sangat ingin dilihat nomor satu.

Apakah cinta yang lahir dari ketertarikan fisik, masih lebih kuat daripada keberanian keluar dari relasi abusive? Bagaimana cara Anda?

Dicari Lelaki Baru, Syaratnya Bukan Abuser


Perempuan kebanyakan menjadi target kekerasan, dan lelaki menjadi pelakunya. Saatnya lelaki terlibat, membangun kesadaran kaumnya untuk menghentikan kekerasan.

Nur Iman Subono, inisiator Gerakan Laki-laki Baru, mengatakan lelaki harus menjadi bagian gerakan perempuan, peduli terhadap perempuan, dan perlu dilibatkan.

"Lelaki yang diinginkan adalah tidak abuser. Keutamaan lelaki (manhood) dikondisikan sesuai nilai yang dikonstruksikan secara sosial. Lelaki kemudian menjadi role model, lelaki harus agresif dan macho. Konstruksi citra lelaki inilah yang membuat lelaki menjadi abuser dan menjadi penyebab kekerasan terhadap perempuan," papar aktivis yang akrab disapa Boni ini, dalam seminar bertema "Gerakan Laki-laki Baru" di Jakarta belum lama ini.

Secara kultural, lelaki ditempatkan pada posisi lebih tinggi dan perempuan lebih rendah. Nilai ini dipahami dan muncul lah kriteria seperti lelaki sebagai pencari nafkah, kelahiran anak lelaki lebih diharapkan, dan privelese lain yang didapati kaum adam.

Boni menjelaskan, tidak semua lelaki sanggup dengan kriteria dari masyarakat yang melekat padanya. Kekerasan terhadap perempuan muncul karena lelaki tidak mampu memenuhi kriteria ini dan menjadi tidak percaya diri karenanya.

Meski begitu, persoalannya bukan sekadar sanggup atau tidak sanggup menjalani kriteria. Boni menegaskan jika manhood beserta kriterianya terus dipelihara, kekerasan terhadap perempuan akan terus direproduksi. Sebab, lelaki akan selalu merasa menjadi nomor satu dengan segala kekuatan yang diberikan kepadanya.

"Korban ketidakadilan lebih banyak perempuan, namun banyak pula lelaki. Perlu dibangun kesadaran bersama bahwa ada alasan rasional bagi semua untuk terlibat mencari solusi," jelas Boni.

Kekerasan menimbulkan kerugian kepada korban, perempuan atau lelaki. Jika selama ini gerakan perempuan bersuara keras meminta keadilan, saatnya lelaki terlibat dengan gerakan laki-laki baru. Lelaki yang menolak kekerasan dan tak menomorsatukan manhood, terutama dirinya sebagai lelaki.

Mengapa Wanita Tertarik pada Pria yang Sudah Berpasangan?

Barbara De Angelis, Ph.D, pakar hubungan, mengungkapkan dalam bukunya, Ask Barbara, ada beberapa alasan mengapa Anda tertarik dengan pasangan yang tidak bisa dimiliki. Berikut paparan Barbara.

Merasa ditinggalkan salah seorang orangtua saat kecil
Sejak kecil Anda merasa tidak pernah mendapat dukungan dari orang terdekat sehingga ketika dewasa Anda mengulangi pola ini lagi dengan cara mencari pasangan yang tidak bisa mendukung Anda sepenuhnya juga.

Tidak percaya diri
Bisa jadi karena berasal dari keluarga yang sangat berantakan, atau selalu dikritik, diabaikan, dan dilecehkan, ketika dewasa Anda mungkin merasa tidak berhak mendapatkan seorang pasangan yang baik. Anda tidak pernah percaya bahwa orang baik-baik akan memilih Anda sebagai pasangan hidupnya.

Anda takut pada keintiman
Terlibat dalam suatu hubungan dengan seseorang yang tidak bisa mencintai Anda sepenuhnya merupakan cara yang tepat untuk menghindari keintiman. Mungkin ini dilatarbelakangi oleh pengalaman masa kecil Anda yang tidak menyenangkan. Akibatnya, Anda menemukan zona nyaman dengan memilih pasangan-pasangan yang tidak memungkinkan Anda membangun komitmen.

Anda bisa keluar dari jeratan cinta ini kalau mau memilih meninggalkan si Mr Right, Wrong Time. Sampai Anda bisa terbebas dari pola ini secara emosional, sebaiknya mencoba puasa hubungan untuk sementara waktu. Tidak berkencan dan tidak berhubungan secara intim dengan pria, apa pun bentuknya. Ini akan membuat Anda kuat, menyembuhkan kehampaan, dan bisa berpikir jernih tentang pasangan yang Anda butuhkan dalam kehidupan sekarang dan masa mendatang.