Tampilkan postingan dengan label anda dan dia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anda dan dia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 April 2010

Musik sebagai Pengiring Bercinta

Musik memang membuat hidup lebih hidup, tak terkecuali seks. Walau belum banyak penelitian yang dilakukan tentang pengaruh musik terhadap seks, beberapa seksolog, terutama yang berkecimpung dalam bidang terapi, cukup yakin, musik mampu memengaruhi kinerja seks manusia. Beberapa ahli lain, yang lebih berhati-hati, hanya menyatakan bahwa jenis musik tertentu bisa memengaruhi suasana yang membangkitkan mood bercinta. Tapi, yang jelas, beberapa penelitian menemukan, rangsangan auditif (hal yang berhubungan dengan indera pendengaran) merupakan salah satu yang bisa membangkitkan hasrat bercinta manusia. Musik seperti apa sih, pilihannya?

Musik keras
Kalau Anda berpikir musik yang bisa membangkitkan gairah adalah musik-musik pelan, seperti lagu klasik atau lagu cinta, Anda mungkin terlalu banyak menonton film Hollywood. Soalnya, musik yang bisa meningkatkan dorongan seksual justru musik-musik yang keras dan berdentam-dentam.

Tracy Erb, seksolog dari Amerika Serikat, menyatakan, suara keras berhubungan dengan hasrat seks. "Persentase responden yang berhubungan seks setelah mengunjungi diskotek atau konser musik rock lebih besar ketimbang responden yang mengunjungi konser jazz atau musik klasik," katanya.

Fenomena ini, menurut Erb, merupakan "tanggung jawab" bagian tertentu dari indera pendengaran manusia. Dalam rongga telinga ada suatu bagian yang disebut sacculus, yang bereaksi bila menerima rangsang suara yang keras dan ingar bingar. Rangsangan itu kemudian diteruskan ke pusat emosi di otak, yang diterjemahkan sebagai sesuatu yang menyenangkan. "Karena itu, sekali-sekali ajaklah pasangan ke diskotek atau konser musik rock agar gairahnya bangkit," saran Erb.

Musik lembut
Lee Barger, seorang kritikus musik dan DJ berpengalaman di sebuah stasiun radio, menyatakan pendapat yang sedikit berbeda dari Erb. "Banyak orang yang lebih menyukai musik-musik berirama lembut sebagai pilihan teman bercintanya," kata Gardner. Pendapat itu didasarkan pada pengalaman-pengalaman ketika masih siaran lewat tengah malam. "Banyak permintaan lagu-lagu pelan, khususnya lagu Barry White," katanya. Selain Barry White, ada beberapa lagu berirama pelan yang dibawakan pria penyanyi lain yang juga banyak digemari.

Tapi, kenapa pilihannya penyanyi pria? "Para penyanyi itu terdengar benar-benar jatuh cinta ketika membawakan lagu-lagunya dan itu bisa membuat perasaan pendengarnya terhanyut," kata Gardner. Selain itu, Gardner berpendapat, mendengar suara penyanyi pria juga memiliki efek tertentu pada pasangan. Mereka bisa memproyeksikan dirinya pada pesona yang dimiliki penyanyi-penyanyi itu.

Tergantung selera
Lalu, lagu mana yang harus Anda pilih? Penelitian-penelitian dalam bidang psikologi yang mengulik hubungan antara musik dan emosi atau perilaku membuktikan, pengaruh musik juga tergantung dari selera dan pengaman seseorang dengan musik itu. Misalnya, jika sebuah lagu mengingatkan pada pengalaman patah hati, lagu itu malah akan membuat Anda sedih. Jadi, pilihlah musik, bukan musik yang menimbulkan trauma pada diri Anda dan pasangan.

Erb menambahkan, dengan data yang ada, musik semata tidak dapat dianggap sebagai pembangkit gairah. "Musik hanya salah satu elemen penunjang yang dapat menambah hidup aktivitas seks," paparnya. Menurut Erb, yang terpenting adalah rasa kebersamaan secara psikis dan kedekatan fisik. Musik juga bisa dijadikan sarana menciptakan suasana rileks dan nyaman. Seorang terapis musik, Monty P Satiadarma, menyarankan untuk mendengarkan musik instrumentalia alias musik tanpa syair dan tidak keras sebagai soundtrack acara bercinta Anda.

Meskipun musik bisa membangkitkan gairah seksual, perlu Anda ingat, jika aktivitas seks melibatkan banyak sekali gerakan, cobalah mengadaptasikan musik dengan volume yang membuat Anda dan pasangan merasa nyaman dan memungkinkan Anda masih bisa mendengarnya mengerang.

Lagu-lagu seksi:
Ne-Yo: Sexy Love, R Kelly: Sex Me, Janet Jackson: That's The Way Love Goes, Boyz II Men: I'll Make Love to You, Usher: Nice and Slow, Marvin Gaye: Let's Get it On, Nelly Furtado feat. Timbaland: Promiscuos, Toni Braxton: You're Makin' Me High, Taylor Swift: Fifteen, Black Eyed Peas: Pump It, Li'l Wayne: Lollipop, 50 Cent feat. Olivua: Candy Shop, Sade: By Your Side, Mariah Carey: Touch My Body.

Jumat, 02 April 2010

Jangan Jadi Perempuan High Maintenance!

Kebanyakan perempuan akan berubah menjadi manja, pemarah, mudah tersinggung, dan tidak pernah puas, setelah memiliki pasangan. Contohnya saja, Anda langsung kesal kalau pasangan tidak langsung membalas SMS Anda, atau Anda tidak puas dengan hadiah ulang tahun yang diberikan pasangan dan enggan memakainya.


Semua keinginan tersebut membuat Anda seolah kehilangan akal sehat. Anda hanya ingin dimanja dan diberikan kemewahan. Yang paling membuat Anda bingung, sebelum bertemu dengan si dia Anda termasuk perempuan yang mandiri. Mengapa semuanya jadi berubah justru setelah Anda mempunyai pendamping tetap?

Nah, ada baiknya Anda menenangkan diri dulu. Ingat-ingat bagaimana reaksi Anda bila terjadi sesuatu antara Anda dan si dia, lalu carilah solusi yang terbaik.

Kasus 1: Anda langsung marah besar saat pasangan lupa menelepon balik. Kemudian ketika ia terlambat menjemput hingga 1 jam, Anda akan berdiam diri dan tidak menegurnya sampai tengah hari.

Jalan keluar: Cari kegiatan positif yang bisa menyibukkan Anda, seperti memasak, berbenah, membaca, browsing internet, atau kegiatan lainnya. Anda bisa juga menyibukkan diri dengan berjalan-jalan dengan teman-teman. Mereka yang punya kehidupan yang aktif umumnya akan menggunakan waktu untuk bersosialisasi dan menyalurkan hobi.

Kasus 2: Barang-barang fashion atau kencan fine dining bukan sesuatu yang luar biasa dalam hubungan Anda. Semuanya sudah jadi kebiasaan, karena si dia selalu menghujani Anda dengan hadiah-hadiah semacam itu.

Jalan keluar: Anda bukan tipe perempuan matre, kan? Anda punya penghasilan dan bisa membeli sendiri barang yang Anda mau. Hargailah pemberian pasangan, meskipun tidak Anda sukai. Percayalah, mereka tetap butuh pengakuan bahwa Anda menyukai pemberiannya.

Kasus 3: Jalan-jalan tidak pernah dilakukan secara spontan. Soalnya, Anda butuh tiga jam untuk berdandan.

Jalan keluar: Ladies, pria tidak mau akan mengamati selentik apa bulu mata Anda, atau apakah rambut Anda harus lurus setelah dicatok berkali-kali. Percayalah, Anda bisa tampil beda saat pergi ke resepsi perkawinan. Jadi simpan saja tenaga Anda kalau hanya sekadar makan siang di mall.

Kasus 4: Anda tidak tahu bagaimana pekerjaan pasangan Anda. Sebab yang menjadi fokus perhatian Anda adalah penjelasan panjang lebar tentang keterlambatannya menelepon atau menjawab SMS Anda.

Jalan keluar: Boleh saja mengeluarkan uneg-uneg kepada pasangan. Tetapi Anda harus tetap adil. Anda ingin didengarkan? Begitu juga pasangan. Beri kesempatan padanya untuk menceritakan apa yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaannya di tempat kerja.

Kasus 5: Anda lupa bagaimana rasanya naik angkutan umum, karena pasangan selalu siap menjemput dan mengantar Anda kapan pun dan kemana pun.

Jalan keluar: Halooo...? Pasangan Anda bukan supir. Ia pasti memiliki aktivitas yang lebih penting dilakukan, bukan sekadar mengantar Anda kesana-kemari.

Kasus 6: Si dia harus menemani Anda berbelanja, reuni dengan teman SMA, dan makan bersama keluarga Anda. Namun, Anda jarang mau ikut serta dengan kegiatannya.

Jalan keluar: Terlalu mendominasi hubungan akan berujung pada pemberontakan. Sesekali saat libur tanyakan pada pasangan apa yang ingin lakukan. Kali ini, Anda yang harus mengikuti jadwalnya.

Kasus 7: Anda enggan berkumpul dengan teman-temannya karena menurut Anda mereka kurang asik. Namun Anda juga tak mau jika pasangan lebih memilih berkumpul bersama temannya ketimbang Anda.

Jalan keluar: Anda tidak harus memaksakan diri nongkrong dengan teman-temannya. Cari kegiatan bersama teman-teman yang sempat Anda lupakan karena Anda begitu sibuk dengan si dia.

Minggu, 28 Maret 2010

Bagaimana Anda dan Pasangan Mengatasi Konflik?

Konflik dalam rumah tangga bisa menjadi masalah besar yang membuat hubungan hambar. Namun sangat bisa menjadi ruang belajar bagi pasangan untuk tumbuh bersama.

Sikap saling menghargai dan menerima sebagai individu yang berbeda, menjadi salah satu kuncinya. Menjadi suami atau istri yang dominan hanya akan mendorong Anda atau pasangan melakukan tindak kekerasan. Jika sudah begini, Anda terjebak dalam relasi abusive.

Wartawan senior Mayong Suryo Laksono punya cara sendiri dalam mengatasi konflik dalam rumah tangga yang dibinanya bersama aktivis dan politisi Nurul Arifin.

Seringkali hal kecil seperti komentar atau respons tentang ketidaksukaan atas hobi masing-masing menjadi sumber keributan suami-istri. Mayong menanggapi konflik semacam ini dengan guyonan.

"Jangan pernah memaksa untuk menjadi sama dengan diri sendiri. Suami dan istri tetap menjadi individu yang berbeda. Pasangan saling mendewasakan untuk menjadi lebih baik," papar Mayong, yang menjadi panelis dalam seminar "Gerakan Laki-laki Baru" di Jakarta, Rabu (10/3/2010) lalu.

Mayong meyakini bahwa setiap masalah akan terselesaikan dengan perjalanan waktu. Setiap individu memiliki ruang untuk selalu memperbaiki dirinya. Dengan prinsipnya ini, Mayong lebih meyakini bahwa kekerasan takkan bisa menyelesaikan masalah.

Pria yang berpengalaman lebih dari 20 tahun di media ini, dinilai merepresentasikan Gerakan Laki-laki Baru (sebuah inisiasi dari sejumlah aktivis isu ketidakadilan pada perempuan). Kepribadian dalam diri Mayong dianggap mencerminkan lelaki baru. Ia bukan sekadar menolak kekerasan terhadap perempuan, tetapi juga memberikan persepsi baru dalam membangun relasi yang seimbang dalam rumah tangga.

Dalam perspektif Mayong, rumah tangga idealnya saling memberdayakan, suami terhadap istri, dan begitu pun sebaliknya. Masing-masing tetap menjadi manusia mandiri yang bertumbuh atas dirinya, namun juga saling membutuhkan satu sama lain.

"Saya sepenuhnya memberikan kepercayaan kepada Nurul dengan aktivitasnya di dunia politik, begitu pun Nurul terhadap saya. Bagaimana pun, saya tetap menjadi orang pertama yang dimintakan pendapat olehnya. Artinya, kami tetap saling membutuhkan sebagai pasangan," tandas Mayong.

Bagaimana dengan Anda dan pasangan? Apakah Anda menganggap pasangan sebagai teman, saingan, atau musuh, dalam mengatasi konflik?

Hanya Satu Cinta, Cukupkah?

Kalau mau jujur, semua perempuan yang sudah berpasangan pasti pernah menyimpan rasa suka pada pria lain. Begitu pula halnya dengan kekasih Anda, yang diam-diam pernah "memendam rasa" dengan perempuan lain. Sebenarnya, bisakah kita membagi cinta untuk banyak orang dalam waktu bersamaan?

Suntikan Semangat Baru
Ini bukan lagi cerita baru. Pada saat sudah tidak lagi menyandang status available, tiba-tiba muncul pria idaman lain di depan mata. Mau ditanggapi, takut salah. Mau pura-pura cuek, kok ya susah. Apalagi bila pria tersebut juga menunjukkan atensi serupa pada kita. Padahal, hubungan dengan kekasih juga sedang mesra-mesranya. Harus bagaimana, dong?

Tak perlu pusing. Menurut Dr Yvonne Kristin Fulbright, pakar hubungan, selama janur kuning belum melengkung, Anda masih bebas mencari alternatif pendamping. Pacaran memang momen untuk menentukan pilihan terbaik, bukan? Bukan hanya kita yang belum menikah, mereka yang sudah pernah menghadap penghulu pun terkadang masih punya kesempatan untuk mendapatkan pendamping yang lebih baik.

"Serangan" cinta di saat kita sudah memiliki pasangan ini biasanya terjadi apabila kita menemukan sisi positif yang disukai pada diri pria baru tersebut, yang tidak dimiliki oleh pasangan kita. Misal, Anda menyukai "cem-ceman" baru ini karena dia bisa membuat Anda tertawa terbahak-bahak. Sangat berbeda dari pasangan Anda yang cenderung pendiam.

Atau, semata-mata karena pria idaman baru ini bisa membuat Anda mencicipi kembali indahnya perasaan jatuh cinta. Soalnya, hubungan asmara yang telah berlangsung lama biasanya sudah tak lagi menyisakan "getar-getar" di dalam hati. Anda tidak lagi deg-degan setiap kali menatap mata kekasih. Itu sebabnya, merasakan kembali "kembang api" setiap kali mencuri pandang ke arah pria baru itu membuat Anda seperti mendapat suntikan semangat baru.

Ada Berbagai Jenis Cinta
Anda sudah memutuskan untuk menerima perhatian dari pria baru tersebut, tapi masih ragu akan kemampuan mencintai dua orang dalam waktu bersamaan? Kata Dr Helen Fisher, seorang antropolog yang menulis buku Why We Love?, sebenarnya setiap orang punya kemampuan untuk membagi hatinya kepada lebih dari satu orang. Itu yang disebut dengan istilah "polyamory".

Polyamory adalah praktek memiliki lebih dari satu hubungan cinta dalam waktu bersamaan. "Open marriage", "open relationship", dan sejenisnya merupakan hubungan berbasis polyamory. Bukan hanya terkait daya tarik fisik, hubungan polyamory juga melibatkan cinta, keintiman, persahabatan, perasaan sayang, libido, romantisme, dan sebagainya. Sama seperti hubungan "normal".

Menurut Dr. Fisher, pada dasarnya, dorongan manusia untuk mencari pasangan didasari oleh tiga kebutuhan, yaitu nafsu birahi, cinta romantis, dan kedekatan hubungan (attachment). Nah, tiga sirkuit otak yang mengatur ketiga hal ini tidak selalu berjalan kompak. Bisa saja ada satu orang menjadi "sasaran bersama". Tapi, mungkin pula ketiga sirkuit otak tersebut menemukan "sasaran" yang berbeda. "Jadi, berdasarkan tinjauan ilmu saraf, sebenarnya manusia bisa mencintai lebih dari satu orang secara bersamaan," kata Dr Fisher.

Mungkin saja ada yang menilai bahwa perasaan cinta yang terlibat dalam hal ini adalah cinta yang tidak matang, hanya sebatas kulit luar. Tapi, jangan lupa, bahwa bangsa Yunani kuno pernah menyatakan bahwa di dunia ini ada beberapa macam cinta; Eros -cinta erotik yang melibatkan fisik dan emosi, Agape -cinta yang mendahulukan kepentingan salah satu pihak demi pihak lain, Storge -cinta sebagai sahabat dan pendamping, Mania -cinta yang tergantung cenderung obsesif, dan sebagainya.

Ia Si Mr Right, tapi Ia Sudah Berpasangan

Anda atau teman Anda mungkin pernah mengalami kejadian seperti ini. Menjalin hubungan cinta yang sangat menyenangkan dan indah dengan seorang pria yang penuh pengertian dan partner diskusi yang asyik. Dengan kata lain, dia adalah segalanya. Dia memenuhi kriteria Anda dari A sampai Z. Namun, ada satu masalah. Waktu. Seharusnya dia tidak datang ke dalam hidup Anda saat ini. Semestinya cinta Anda bersemi beberapa tahun lalu ketika Anda dan dia sama-sama masih berstatus lajang. Ah, andaikan punya mesin waktu, ingin rasanya kembali ke masa lalu.

Bisa berubah
Ah, jangan menyesali diri dan menyalahkan waktu, dong. Waktu memang tidak bisa diputar. Pernahkah terlintas di kepala Anda bahwa tiga atau lima tahun lalu, mungkin Anda tidak akan tertarik kepadanya. Dia lewat di depan Anda pun bisa jadi Anda tidak akan menoleh kepadanya. Karena saat itu, kualitas yang dia miliki belum memenuhi kualifikasi Anda. Atau standar Anda tentang pria impian belum setinggi sekarang. Kalau dulu kriteria pria idaman Anda hanya yang jago main musik, kini ada kebutuhan lain yang mesti dipenuhi si pria idaman. Dia mesti bisa diajak diskusi, pengertian, punya kehidupan mapan, dan ngemong.

Dia menjelma menjadi pria yang Anda inginkan sekarang pun karena telah mengalami berbagai macam proses. Dari anak-anak, berproses menjadi remaja, kemudian bermetamorfosis lagi menjadi pria dewasa, dan seterusnya. Nilai-nilai hidupnya, karakternya, wawasan, semuanya berubah. Lingkungan, termasuk orang-orang terdekat, sangat memengaruhi proses ini. Teman, pergaulan, lingkungan, bahkan istrinya, pun memberikan andil yang besar.

Satu hal lagi, apabila hari ini dia menjadi pria idaman Anda, belum tentu lima tahun kemudian dia masih menyandang titel Mr Right bagi Anda. Bahkan, tak perlu menunggu lima tahun, dalam waktu seminggu pun ada kemungkinan dia tercoret dari daftar Mr Right. Tak ada satu hal pun yang pasti di dunia ini. Semua bisa berubah, termasuk si dia.

Jangan terbuai soulmate
Bagaimana jika Anda beranggapan bahwa dia adalah belahan jiwa? Ah, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa pria itu adalah belahan jiwa Anda, pasangan sejati, atau cinta mati sehingga perlu diperjuangkan mati-matian. Para pakar mengatakan bahwa belahan jiwa, pasangan sejati, atau apa pun namanya, bisa lebih dari satu. Dan, belahan jiwa bisa berbeda dari waktu ke waktu seiring dengan pertambahan usia dan perkembangan pola pikir Anda.

Kalau pada masa kanak-kanak belahan jiwa adalah sahabat akrab yang ke mana-mana selalu bersama, ketika dewasa, belahan jiwa yang kita cari pasti melibatkan perasaan spesial terhadap lawan jenis. Itu pun bisa beda kriterianya dari waktu ke waktu, bergantung pada pengalaman emosi dan apa yang menjadi kebutuhan Anda saat itu. Karena itu, tak perlu terlalu ngoyo ingin mendapatkan Mr Right dengan cara merebutnya dari orang lain. Pada masa depan, boleh jadi Anda akan bertemu dengan kandidat Mr Right lain dalam situasi yang lebih nyaman.

9 Keluhan yang Pria Tak Tahan


Sifat umum pada pria adalah melupakan hal kecil dan selalu fokus pada hal besar. Keluhan perempuan kadang bersifat sepele dan membuat pria jengah. Meskipun pria tak ambil pusing, dan seringkali lupa pada apa yang Anda keluhkan namun, tetap saja sejumlah hal mengganggu pikiran pria dan tak tahu bagaimana menghadapinya. Simak kata yang dilontarkan perempuan dan bagaimana pria menanggapinya, terutama dalam rumah tangga.

'Keluargamu membenci aku'

Suami menanggapi kata-kata ini dengan persepsi bahwa keluarganya menyebalkan, dan pasangannya menuduh si pria bersalah karena membuat keluarganya membenci sang wanita. Saat perempuan seringkali bicara tentang hubungan, pria fokus kepada penyelesaian masalah. Kata 'Kamu' membuat pria merasa diserang. Padahal maksud Anda ingin didengarkan pasangan dan membahas masalahnya. Katakan dengan lebih jelas, misalkan, 'Saya ingin sekali dekat dengan keluargamu, bagaimana caranya ya?'

'Saya pikir kamu butuh pekerjaan baru'
Pria menanggapi pernyataan ini dengan menganggap dirinya pecundang. Lantas dia akan berpikir, pasangannya menyesal menikahi lelaki yang tidak mampu menghasilkan banyak uang. Pria cenderung membenci kegagalan. Sisi maskulin pria akan terusik jika perkataan pasangan cenderung menjatuhkan dirinya. Terutama terkait dengan pendapatan yang tidak lebih baik dari harapan. Lebih baik bicarakan pada pasangan, bagaimana solusi bersama.

'Seandainya kamu punya lebih banyak waktu dengan anak-anak'
Suami lantas menganggap dirinya ayah yang buruk untuk anak-anaknya. Suami Anda bisa jadi tidak nyaman bersama anak-anak, karena Anda selalu mengkritik kemampuannya dalam mengasuh. Pria lebih senang ditanya apa pendapatnya, karena hal ini membangun rasa percaya dirinya. Kurangi sikap menghakimi suami dalam mengasuh anak. Katakan padanya, 'anak-anak senang bersama denganmu. Aktivitas apa yang tepat buat kamu dan anak-anak ya?'

'Aku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah'
Suami Anda menganggap dirinya pemalas dengan pernyataan tersebut. Pria memang kurang memiliki empati. Jadi jika Anda mengatakan itu, jangan harap suami akan menyadari dan mengakui bahwa Anda sudah kelelahan. Anda perlu juga menyadari bentuk kontribusi suami, misalkan membuang sampah. Berikan perhargaan atas usahanya, dan mulai bicarakan membuat pembagian kerja.

'Kamu lebih sering bepergian dengan teman daripada dengan aku'
Persepsi suami adalah menganggap dirinya lebih senang bersama teman daripada istri. Suami kemudian berpikir Anda tidak menghargai waktu yang ia habiskan bersama Anda. Lebih baik katakan kepada suami bahwa Anda menghargai pertemanannya, namun Anda cemburu. Katakan juga Anda ingin sekali menghabiskan waktu bersama. Lakukan saja aktivitas yang biasa suami lakukan bersama temannya, ini akan lebih menyenangkan.

'Kamu tak pernah bicara tentang apapun'
Hubungan bermasalah seakan penyebabnya adalah suami Anda. Ini yang ditangkap oleh suami ketika Anda katakan hal tersebut. Perempuan cenderung mengakumulasi masalah, sedangkan pria lebih sering menyelesaikan satu per satu. Bicarakan masalah per kasus. Jika soal pekerjaan, tanyakan kepada suami apa yang membuatnya terlihat stres. Hal ini menunjukkan Anda bersedia membantu apapun masalahnya.

'Kamu tidak menghargai saya'
Suami mendengar kata ini dan merekamnya sebagai keluhan bahwa dia tidak mencintai Anda. Pria lebih sering memberikan apresiasi kepada pasangan dengan tindakan, sedangkan wanita dengan ucapan. Bicarakan kepada suami betapa Anda membutuhkan penghargaan dari Anda. Ajak suami untuk temukan bagaimana caranya.

'Kamu tak pernah mau berkumpul dengan temanku'
Suami Anda menanggapinya dengan memahami bahwa dia tidak mengerti apa yang Anda butuhkan. Jika Anda ingin suami bergabung bersama teman, fokus pada kebaikan apa yang bisa Anda berdua dapatkan. Katakan saja, teman Anda sangat ingin mengenal suami lebih jauh dan Anda sangat menghargai jika Anda bersedia luangkan waktu bersama.

'Kamu selalu sibuk bekerja'
Anda seperti menganggap suami lebih peduli kepada pekerjaan daripada diri Anda. Sebenarnya suami tahu bahwa Anda tak senang dengan kesibukannya. Namun daripada membuatnya merasa bersalah, sebaiknya bicarakan bagaimana dampaknya terhadap Anda. Cari solusi bersama agar hubungan menjadi lebih seimbang.