Tampilkan postingan dengan label info kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info kegiatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 April 2010

Forever Jewellery dan Perlini's Silver Gelar Diskon


Ingin mencari cincin untuk pertunangan atau perkawinan Anda? Atau Anda berniat memberikannya sebagai hadiah untuk kekasih, sahabat, ataupun kerabat dekat sebagai ungkapan rasa sayang Anda?

Bila ya, coba kunjungi beberapa tenant terkenal yang menyediakan cincin berkualitas dengan diskon menarik, yaitu:

Forever Jewellery
Forever Jewellery sedang me-launching produk barunya yang diberi nama "LOTUS" di Senayan City, LG Floor, dari tanggal 29 Maret – 4 April 2010. Set koleksi merek berkualitas yang ditawarkan termasuk PT Platinum, The Promises, You & Me, Forever Men’s and Forever Set Collections. Perhiasan di The Promises dikemas secara menarik, yaitu dengan boks LCD eksklusif dimana Anda bisa mengisinya dengan musik, foto, atau video, serta pesan-pesan khusus.

Bila Anda kesulitan memilih perhiasan yang cocok untuk Anda, Forever Jewellery juga akan bertindak sebagai konsultan perhiasan yang siap membantu Anda.

Perlini’s Silver
Perlini’s Silver menggelar program annual sale dari tanggal 26 Maret – 11 April 2010, dengan memberikan diskon 20% - 70% di semua tokonya di Jakarta dan Bandung. Untuk cincin, harga yang ditawarkan mulai Rp 325.000. Untuk kalung, biasanya Perlini’s Silver memberikan harga mulai Rp 350.000. Jika kamu membeli perhiasan di Perlini’s Silver, Anda juga bisa mendapatkan bonus perawatan pencucian secara cuma-cuma.

Produk yang dihadirkan oleh Perlini’s Silver dibuat langsung dari Italia dalam berbagai bentuk kalung, gelang, dan anting-anting.

Minggu, 28 Maret 2010

Ikuti Lomba Bintang Dapur Royco


Royco, brand bumbu penyedap masakan, menggelar kompetisi memasak untuk para ibu di enam kota, dalam rangkaian program bertajuk Bintang Dapur Royco.


Royco akan mencari 13 tim yang masing-masing tim terdiri atas tiga ibu yang akan beradu kreasi resep masakan. Syarat tambahannya hanya dengan menyertakan enam bungkus Royco.

"Program ini diluncurkan untuk memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap ibu di seluruh Indonesia melalui masakan yang dihidangkan ibu sehari-hari," ujar Heru Prabowo, Senior Brand Manager Royco dalam talkshow berjudul "Masakan Ibu-Cinta, Kreasi dan Apresiasi" di Plaza Bapindo, Kamis (11/3/2010).

Setiap tim harus memberikan resep tiga kreasi masakan yang diolah secara kuah, tumis, dan goreng. Royco akan membentuk juri untuk memilih 50 peserta (tim) terbaik. Selanjutnya juri akan mendatangi tim terpilih untuk menilai dari segi kreasi, rasa, keunikan, dan kekompakan para tim dalam memasak.

Royco akan menyeleksi 13 tim yang dinobatkan sebagai pemenang. Para pemenang ini mendapat sejumlah hadiah seperti tur kuliner sekeluarga, uang tunai Rp 10 juta, dan tampil dalam acara memasak "The Chef Indonesia" yang digelar oleh Royco pada 20 Maret 2010.

Program Bintang Dapur Royco akan dimeriahkan juga dengan sejumlah acara seperti demo memasak, sampel produk, dan lain sebagainya. Program ini diadakan selama Februari hingga Mei 2010 di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, dan Medan.

Bisnis Sulaman Tas Tangan

Endang Rachminingsih menekuni sulam tangan sejak tahun 2005. Berkat kesabaran dan komitmennya terhadap sulaman, kini ia dipercaya mengisi butik dan toko suvenir di Istana Negara Republik Indonesia. Tak hanya itu, hasil-hasil sulamannya kini telah melanglang buana hingga ke luar negeri.

Kompas Female mendatangi rumah wanita kelahiran Bogor, 50 tahun silam itu di bilangan Meruya Selatan. Pada salah satu bagian dari rumah wanita empat anak itu dipenuhi dengan koleksi hasil kerajinan tangannya, sulaman tangan, dan sulaman mesin (bordir).

Hasil sulamannya itu ia terapkan menjadi tas tangan nan cantik, kotak tisu, kipas, hiasan dinding, hingga dompet. Endang, begitu ia akrab disapa, mengaku kalau memulai usaha sulam ini awalnya hanya untuk mengisi kekosongan setelah sang suami meninggal tahun 2004 silam.

Saat itu Endang tidak memiliki kesibukan apapun. Idenya timbul setelah membongkar koleksi buku yang dihadiahi oleh almarhum suaminya saat berdinas ke luar negeri. Buku-buku itu rata-rata adalah buku sulaman dan buku keterampilan.

Berbekal dengan keteguhan dan kesungguhan niat, Endang mempelajari sulaman tangan secara otodidak. ''Saya belajar dari nol. Saat itu saya hanya tahu hanya dua dasar teknik menyulam, yaitu tusuk batang dan rantai,'' ujar wanita yang besar di Madiun ini.

Satu bulan lamanya ia mempelajari teknik menyulam dan aplikasinya lewat buku-buku tersebut. Akhirnya ia bisa menguasai teknik-teknik dasarnya. Sembari belajar, ia juga melatih kemampuannya dengan memberikan kursus gratis pada anak-anak SLB di bilangan Meruya.

Saat itu sulaman yang dibuat diterapkan menjadi tas yang amat sederhana. ''Hasil sulaman anak-anak SLB saya potong dan jadikan tas yang sederhana sekali,'' kenang peraih sejumlah penghargaan UKM (Usaha Kecil Menengah) itu.

Tanpa disangka, ternyata hasil tas sederhana yang ia buat laku. Setelah itu ia mulai serius menekuni sulaman. Endang bekerja sama dengan dua orang penjahit untuk membuat sulamannya menjadi tas-tas cantik.

Ia tidak merasa kesulitan untuk mencari model untuk tas-tas pesanannya. Selain mencontoh dari buku-buku, Endang juga memiliki skill merangkai bunga yang ia pelajari dari Mayasari, sebuah perkumpulan merangkai bunga pimpinan Ir Suliantoro di Yogyakarta.

''Menyulam itu sama dengan merangkai bunga. Bedanya, menyulam menggunakan benang sedangkan merangkai menggunakan bunga segar. Secara teknik, sama,'' imbuhnya. Lewat keterampilan merangkai bunga itu ia memilih gradasi warna, motif, dan rangkaian sesuai dengan imajinasi dan pengalamannya dahulu.

Toko suvenir di Istana Negara
Bisnis sulaman Endang yang diberi nama Rumah Sulam Rachmy kian berkembang pesat. Terlebih setelah tahun 2006 ia memasukkan sejumlah kreasi sulamannya ke sejumlah toko ternama. Sebut saja toko Danarhadi, Martha Tilaar, Allure Batik, Chic Mart, hingga toko suvenir dan cinderamata Istana Negara RI. Khusus pesanan Istana Negara tidak dijual bebas.

Bahkan ia kerapkali dipercaya oleh ibu Hassan Wirajuda dan ibu Jusuf Kalla untuk membuatkan pesanan khusus bagi tamu negara. Terakhir ia mengikuti bazar dan pameran di Jepang bersama Yayasan Sulam Indonesia yang diketuai ibu Jero Wacik.

Ia mengawali kiprah penjualan ke pangsa pasar luas saat ia berkenalan dengan Ibu Wiwoho, penanggung jawab bagian barang di Danarhadi. Setelah lewat pemberitaan di media cetak dan elektronik, ia diminta untuk mengisi koleksi tas di sana.

Sedangkan untuk bisa masuk ke Istana Negara ia mengaku awalnya kenal dengan istri dari wakil duta besar Indonesia di Singapura. ''Setelah itu suaminya, Kemal Munawar, diangkat menjadi kepala rumah tangga Istana Negara. Jadilah saya diminta untuk mengisi toko suvenir dan cinderamata di sana,'' ungkapnya.

Allure juga sempat memintanya untuk mengisi koleksi tas mereka di Kemang. Perkenalannya dengan Djaka dari Allure dalam pameran INA CRAFT 2006 membuahkan kepercayaan untuk bekerjasama. ''Saya rajin ikut pameran INA CRAFT, caranya saya mendaftar lewat kantor UKM Jakarta Barat agar merek saya didaftarkan untuk pameran,'' katanya.

Sementara itu untuk menembus jalur hingga ke Jepang ia mengaku memiliki sepupu yang merupakan bendahara di Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional). Endang akhirnya dikenalkan pada Ibu Jero Wacik yang merupakan salah satu pengurusnya. Dekranas yang bernaung di bawah Departemen Pariwisata dan Kebudayaan mengajaknya untuk ikut pameran ke Jepang awal Februari 2010.

Mengurangi pesanan
Sejak tahun 2006 hingga awal 2009 pesanan tas sulamnya makin membludak. Saat itu memiliki 17 pekerja yang bertugas membordir dan juga menyulam. Ia sempat kewalahan dan tidak memiliki waktu bermain dengan empat orang cucunya.

''Saat itu kegiatan saya bukan hanya memenuhi pesanan. Saya juga dipanggil untuk mengajar TKW di Singapura, guru-guru SMK di Jakarta, sekolah-sekolah, atau lewat departemen dan instansi pemerintah,'' jelasnya. Bahkan ia juga menelurkan dua buah buku tentang sulaman di tengah-tengah kesibukannya itu.

Endang akhirnya berpikir untuk tetap bisa membagi waktu dengan keluarga sambil meneruskan usahanya. Awal tahun 2009 ia memutuskan untuk menghentikan beberapa kerjasamanya. ''Saya membuka butik dan workshop di rumah sambil juga memenuhi panggilan mengajar,'' tegasnya.

Ia mengajar ibu-ibu Darmawanita dan TKW yang dikarantina di Singapura, workshop di Bali bersama Samuel Wattimena dan istri wakil gubernur Bali, Ibu Bintang, mengajar sulaman pada anak-anak dhuafa di Joglo, dan lainnya.

Meskipun saat ini hanya menjalani usaha sulaman, namun orderan tidak pernah putus. Ia memperkerjakan 6 orang pembuat bordir dan tas, juga 3 orang penyulam tangan. Dalam satu bulan ia bisa menghasilkan puluhan tas sulam. Omzet yang diraihnya berkisar Rp 10-30 juta.